International Mission Church
May 16, 2021

Berkorban Untuk Memberikan Pengharapan

Spread the love

Lukas 24:1-12

Oleh : Pdt. Dr. Johan Kusmanto

Kita belajar paling sedikit tiga hal tentang apa artinya Paskah dalam kehidupan kita melalui ayat yang sudah kita baca. Kalau kita perhatikan, peristiwa Paskah sebenarnya adalah sebuah peristiwa yang bukan sesuatu yang mengejutkan karena Dia sudah memberitahukan kepada murid-murid-Nya sebelum Dia mengalami penderitaan, sebelum penyaliban bahkan sebelum masuk di dalam kebangkitan, tiga kali Dia memberitahukannya. Tapi apa yang sudah disampaikan bisa jadi tidak diingat, atau tidak memperhatikannya. Makanya kalau kita perhatikan, ketika wanita itu datang ke kubur malaikat itu mengatakan “Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea. Ingatlah kepada perkataan Tuhan. Ini adalah sesuatu yang sangat penting. Dalam sebuah peristiwa Paskah, seolah-olah mengejutkan, bahkan kalau kita perhatikan ketika mereka memberitahukan kepada para murid, para murid tidak percaya. Menganggap itu sebuah omong kosong. Saya pernah menjelaskan itu, kenapa satu-satunya adalah karena ketika Tuhan Yesus mengajarkan soal itu seolah-olah pengajaran itu tidak ada kaitannya dengan mereka, tidak ada kaitannya dengan apa yang mereka harapkan sehingga itu tidak diperhatikan sama sekali. 

Sebenarnya, banyak Firman Tuhan yang mengajarkan hidup kita. Kalau kita perhatikan maka kita tidak akan terkejut dengan apa yang terjadi dengan kehidupan kita. Banyak pergumulan terjadi. Padahal Tuhan Yesus sudah memberitahukan pengajaran bagaimana harus ikut Tuhan. Diingatkan kembali, mengapa Tuhan Yesus mengajarkan soal kasihilah musuhmu, ampuni saudaramu, karena kita akan mengalami hal-hal seperti itu. Cuma pada waktu kita mengalami itu tidak dikaitkan dengan Firman Tuhan, sehingga kita kaget, shock dan kita mengambil langkah-langkahnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Peristiwa kebangkitan Yesus itu membuat malaikat berkata, Ingat apa yang sudah dikatakan. Kalau hari ini kita mengalami pergumulan apapun, hari ini saya mau mengulangi kalimat ini, ingat Tuhan Yesus sudah pernah mengajarkan melalui Firman-Nya. Bahkan tiga kali Tuhan Yesus memperingatkan para murid, mengajarkan penderitaan kematian pada kali yang kedua, di dalam Lukas 9:43-45, pertama kalinya, jelas para murid tidak mengerti. Kedua kalinya juga tidak mengerti. 

Kita sadar bahwa hidup sebagai anak terang, hidup kita sudah di tebus dengan dengan darah yang mahal, kita tahu kita harus tanggalkan semua dosa kehidupan lama, tetapi ketika ada tawaran terjadi dalam hidup kita yang kita tahu itu tidak berkenan dihadapan Tuhan, kita lupa. Kita tidak mau tahu, dan seringkali ambil keputusan seolah-olah hidup kita terang tidak, gelap pun tidak. Makanya kita perlu diingatkan. Hari ini peristiwa Paskah sebagaimana malaikat Tuhan mengingatkan, kita diingatkan, Ingatlah apa yang pernah dikatakan-Nya kepadamu. 

Yang kedua, Paskah juga sebagai peringatan bahwa itu terjadi karena adanya pengorbanan. Tidak ada paskah tanpa penderitaan dan kematian Tuhan Yesus. Ingatlah apa yang dikatan-Nya kepadamu ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa anak manusia harus diserahkan kepada tangan orang berdosa dan disalibkan, bangkit pada hari yang ketiga. Mari kita belajar ini semua. Walaupun kita tidak senang dengan kata “harus”, tetapi beberapa kali Tuhan Yesus menggunakan kata “harus” itu. Barang siapa mau mengikut Aku, dia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku. Perkataan ini tidak enak. Karena terkesan seolah-olah terpaksa, seolah-olah memaksa, tapi ini sangat jelas bahwa Anak manusia harus. Tuhan Yesus juga menggunakan kata “harus” untuk dirinya sendiri, Bahwa Anak manusia harus” diserahkan ke tangan orang berdosa, di salibkan, dan bangkit pada hari yang ketiga.  Dalam bahasa Inggris, kata must be adalah kata yang keras sekali dan tidak ada pilihan lain. Apakah manusia diciptakan hidup tidak punya pilihan, saya rasa tidak. Allah menciptakan manusia memang untuk memuliakan Allah, tapi supaya manusia memuliakan Allah diberikanlah yang namanya kehendak untuk memilih. Sehingga manusia sendiri akan memilih bahwa saya memilih untuk memuliakan Allah. Saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa saya harus memuliakan Allah. Sebuah keputusan ini adalah keputusan yang sangat perlu kita pelajari bersama. 

Mari kita kembali kepada pergumulan Tuhan Yesus di taman Getsemani dengan kata “harus” ini. Ketika sudah tiga kali Dia mengungkapkan tentang apa yang akan terjadi dengan diri-Nya, penderitaan, kematian dan kebangkitan, waktupun sudah dekat. Di taman Getsemani Dia bergumul, berdoa. Tuhan Yesus merasa sedih dan gentar. Satu kepedihan yang sangat mendalam. Pergumulan itu tidak gampang, antara harus mengikuti kehendak Bapa atau memikirkan diri sendiri. 

Secara manusia tentu tidak menginginkan kita mengalami yang namanya penderitaan, tidak ingin mengalami sesuatu yang tidak enak. Sedih dan gentar, mengapa Dia sedih karena Dia tahu bahwa saatnya makin dekat, murid-murid yang paling dikasihi ada saatnya akan mencela Dia, menyangkal Dia dan tidak ada satupun yang bersama-sama dengan Dia. Ketika Tuhan Yesus dalam masa yang sangat berat mengajak murid-murid berdoa justru mereka tertidur. Makanya satu kepedihan yang mendalam. Tapi Dia tahu Dia datang kedunia ini harus memenuhi apa yang Allah rencanakan. Tapi semua itu jika Tuhan Yesus tidak terima maka tidak ada namanya kebangkitan, tidak ada yang namanya Paskah. Tidak ada namanya keselamatan, tidak ada yang namanya pengharapan. Pengorbanan menghasilkan pengharapan. Kalau yang pertama kita melihat, kita selalu diingatkan, perlu mengingatkan kepada rencana Allah, kepada Firman Allah. Yang kedua, diingatkan bahwa Paskah terjadi karena adanya pengorbanan. Dan yang kita peringati melalui meja perjamuan. Jangan pernah berpikir untuk menjadi berkat tanpa mau berkorban. Untuk menjadi berkat sering kali dibutuhkan yang namanya pengorbanan. 

Yang ketiga, Paskah sebagai peringatan adanya kemenangan. Kebangkitan Tuhan Yesus menyatakan bahwa kematian yang menjadi masalah yang paling pelik dalam hidup manusia sudah terjawab. Kematian bukan akhir segala galanya bagi orang percaya. Karena ada kehidupan yang baru, itulah kehidupan yang kekal di dalam Tuhan Yesus. Kalau masalah yang paling pelik dalam kehidupan manusia sudah di jawab, masakan kita harus kuatir dengan masalah-masalah kecil. Masakan dengan masalah-masalah yang sebenarnya bisa kita selesaikan sendiri, kita masih merasa gentar, takut dan karena masalah itu membuat kita jauh dari Tuhan. 

Paskah mengingatkan kita adanya kemenangan. Masalah yang tersulit dalam kehidupan kita Dia sudah jawab. Karena itu apapun yang sedang kita hadapi, ingat bahwa Dia sudah menjawab segalanya. Ada masalah yang perlu kita tangani dan harus diselesaikan. Ada masalah yang kita biarkan, selesai sendiri. Tapi ada masalah yang tidak mampu kita tangani, tapi walaupun kita tidak mampu menanganinya Tuhan sanggup menolong kita untuk menyelesaikannya. Jadi sebenarnya tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Dan Paskah kembali mengingatkan tentang hal itu. Sekali lagi ada tiga hal. Yang pertama, peristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus mengingatkan kita kepada Firman. Mengingatkan kita bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan rancangan Allah. Sehingga kita tidak perlu kaget apapun yang terjadi. Kalau engkau menjadi orang kristen yang sungguh-sungguh mendapat tantangan, tidak usah kuatir, tidak usah takut karena Tuhan Yesus sudah pernah berkata Dunia membenci Aku maka dunia akan membenci kamu. Yang kedua, Paskah juga mengingatkan bahwa kebangkitan Tuhan Yesus terjadi karena adanya sebuah keputusan bahwa Dia sedia menderita, mati dan akhirnya bangkit. Yang ketiga, Paskah juga mengingatkan adanya kemenangan atas masalah terbesar hidup manusia itulah kematian. Karena itu biarlah memperingati Paskah, mari kita kembali bangkit, mengingat kembali pesan-pesan Tuhan Yesus. 


Spread the love